
rondor.id, Kepulauan Sangihe ||| Ancaman kerusakan lingkungan karena hadirnya industri ekstraktif di Pulau Sangihe yang akan mempengaruhi kondisi sosial, ekonomi, dan budaya mulai nampak. Pejuang lingkungan dan masyarakat menggelar ritual adat Delumatehu Sembanua di Kec. Tamako Kab. Kepulauan Sangihe Prov. Sulawesi Utara, (Sabtu, 26/09/2026), sebagai ritual tolak bala tambang industri ekstraktif.
Lokasi pelaksanaan ritual adat ini berpindah-pindah tempat dengan tujuan untuk mendekatkan prosesnya ke masyarakat. Hal itu juga sebagai peringatan bahwa Sangihe sedang menghadapi ancaman kerusakan lingkungan serius dan akan berdampak buruk kepada kehidupan dan peradaban manusia. Aktivis lingkungan, Jull Takaliuang dalam sambutan kegiatan ini mengungkapkan, bahwa Delumatehu Sembanua ini adalah ritual adat yang sudah mengakar sejak dulu di Sangihe. Ritual ini digelar sebagai tanda awas yang menunjukan pulau ini terancam rusak dengan masuknya industri ekstraktif. Dia juga menyebut budaya dan adat istiadat Sangihe bernafaskan metatengkang (saling menghargai), mateleng (peka mendengar), mateling (hati-hati bertindak), matelang (dewasa dalam berpikir) dan matilang (jernih memutuskan) yang harus tercermin tatanan hidup masyarakat suku Sangihe, termasuk merawat dan menjaga alam semesta.

“Delumatehu Sembanua sendiri sebagai rintihan doa memohon perlindungan dan keselamatan. Memohon belas kasihan kepada Sang Khalik, Leluhur dan Semesta, agar Sangihe diluputkan dari ancaman bencana dan malapetaka seperti gagal panen, banjir bandang, wabah penyakit, kehancuran dan pencemaran lingkungan. Belum lagi dengan masuknya perusahan yang datang merusak pulau kecil ini, menunjukan pulau yang kita cintai terancam hancur.”, ungkap Direktur Yayasan Suara Nurani Minaesa itu.
Lanjutnya, ini juga menjadi bagian dari upaya pelestarian kebudayaan dan menunjukan bahwa kearifan lokal adalah tanggung jawab bersama untuk dijaga dan dilestarikan.
“Melestarikan tradisi dan kearifan lokal menjadi sarana untuk mempertahankan nilai-nilai budaya, tradisi dan kearifan lokal luhur yang diwariskan leluhur sebagai upaya pelestarian lingkungan demi keselamatan ruang hidup suku Sangihe juga edukasi menjaga alam melalui doa dalam ritual adat yang diharapkan menjadi panduan kepada generasi muda tentang pentingnya merawat keterhubungan diri dengan alam semesta sebab manusia tidak terpisahkan dengan alam.”, tambah aktivis perempuan itu.
Selain ritual adat Delumatehu Sumbanua, musik tradisi tagonggong, olri, masamper empat wayer turut ditampilkan dalam kegiatan ini. (YS)








