Umumnya, dalam beberapa sumber tertulis dan tuturan pemandu museum menyebut balongsong sebagai rumah jiwa (wale ne mukur). Tentunya ini menjadi salah satu mata rantai dalam mengkonstruksi kembali kosmologi dan teologi kepercayaan orang Minahasa. Tetapi tradisi ini hanya ditemukan di wilayah Tonsawang yang memang tidak terdapat waruga/timbukar sebagai peti jenazah terbuat dari batu dalam tradisi pemakaman adat orang Minahasa. Dalam ekspedisi pertama ini kami memfokuskan pengumpulan data lisan dari praktisi ritual adat atau kalangan penutur lisan tentang sejarah dan budaya Tonsawang. Ekspedisi ini menjadi penting bagi yang bergelut dalam bidang kebudayaan Minahasa untuk menggali informasi terkait dengan upacara (foso) atau tradisi pemakaman adat. Kunjungan Nicolas Graafland di Tonsawang pada tahun 1860 merupakan bukti historis bahwa benda ini pernah ada di zaman dulu. Dalam catatan perjalannnya dia menulis:
“Op hunne graven bouwden zij kleine huisjes of eene soort van tempeltjes, hoedanige ik elders in de Minahassa nooit heb gezien.”[1]
(Mereka mendirikan rumah-rumahan kecil atau sejenis kuil di atas kuburan, suatu hal yang tidak pernah saya lihat di Minahasa.)[2]
Graafland tidak menyebut secara eksplisit nama balongsong tetapi bukunya yang diterjemahkan oleh Yoost Kullit dan Lucy R. Montolalu, mereka menyertakan lampiran gambar balongsong yang diambil dari museum Jakarta[3]. Tetapi masyarakat di Minahasa Tenggara (Mitra) khususnya di daerah Tombatu sendiri menyebutnya balosong dan bahkan mereka lebih suka disebut Tondanouw daripada Tonsawang. Mereka yakin bahwa mereka memiliki hubungan erat dengan suku Toulour Minahasa[4].
[1] Lihat Graafland, N. De Minahassa: Haar Verledenex Haar Tegenwoordige Toestand (Eene bijdrage tot de Land. en Volkenkunde) TWEEDE DEEL. Te Rotterdam, BM -M. WVT A- ZOXEN. 1867. bladsijde 55.
[2] Lihat Graafland, N. Minahasa: Negeri, Rakyat, dan Budayanya. Yayasan Parahita Grafiti. Jakarta. 1991. Halaman 326. Diterjemahkan dari Bahasa Belanda ke Bahasa Indonesia oleh Lucy R. Montolalu.
[3] Dalam Katalog Departemen Etnologi Museum Masyarakat Seni Bataviaasch yang sebelumnya disebut graftombes {balongsong) van Tonsawang. Terjemahan Yoost Kullit pada tahun 1987 dan Lucy R. Montolalu pada 1991.
[4] Lihat Gosal, P. A dkk. Ringkasan Sejarah Tondanow – Tonsawang. Disampaikan dalam Musyawarah Kebudayaan Minahasa 27 – 29 Juli 1995 di Auditorium Bukit Inspirasi Tomohon.
Baca selengkapnya






