rondor.id – Ada yang lebih berbahaya daripada kekalahan sebuah gerakan: ketika gerakan berhenti menyadari bahwa ia sedang kalah. Hari lahir LMND tidak seharusnya menjadi seremoni yang dipenuhi ucapan selamat dan romantisme sejarah. Hari lahir adalah momen ketika organisasi berdiri di hadapan cermin sejarah dan bertanya dengan jujur: masihkah kita menjadi alat perjuangan rakyat atau perlahan berubah menjadi bagian dari sistem yang dahulu hendak kita gugat?
LMND lahir dari rahim perlawanan terhadap kediktatoran Orde Baru. Ia tidak dilahirkan untuk sekadar menjadi organisasi mahasiswa, melainkan untuk menjadi pelopor perubahan sosial. Kepeloporan bukan soal siapa yang paling dahulu turun ke jalan, tetapi siapa yang paling mampu membaca kontradiksi zaman, mengorganisasi basis massa, dan menjaga arah perjuangan ketika arus politik mulai membelokkannya.
Reformasi 1998 membuka pintu demokrasi, tetapi gagal meruntuhkan fondasi ekonomi-politik yang menopang kekuasaan lama. Rezim berganti, tetapi oligarki tetap bertahan. Wajah kekuasaan berubah, tetapi relasi kuasa tetap bekerja dengan logika yang sama. Demokrasi direduksi menjadi ritual elektoral, sementara kekayaan nasional semakin terkonsentrasi di tangan segelintir elite. Apa yang disebut “reformasi” akhirnya lebih banyak mengganti pengelola sistem daripada mengubah sistem itu sendiri.Di titik itulah lahir paradoks besar gerakan mahasiswa Indonesia.
Sebagian dari kita yang dahulu dipanggil kamerad, yang dulu berdiri di garis depan perlawanan hari ini mereka ada dalam istana. Tentu, tidak ada yang salah dengan memilih jalur itu. Namun sejarah menunjukkan bahwa lebih banyak dari mereka yang diserap oleh logika negara daripada negara yang berhasil diubah oleh mereka. Kekuasaan memiliki kemampuan luar biasa untuk mengubah bahasa perlawanan menjadi bahasa stabilitas, mengubah kritik menjadi kompromi dan mengubah cita-cita menjadi sekadar agenda birokrasi. Inilah salah satu wajah dari apa yang banyak kalangan sebut sebagai pengkhianatan terhadap cita-cita Reformasi: bukan semata-mata karena ada orang yang masuk ke pemerintahan, tetapi karena agenda pembebasan rakyat perlahan digantikan oleh agenda pengelolaan kekuasaan.

Pertanyaannya kemudian sederhana, tetapi menyakitkan: apakah LMND belajar dari sejarah itu, atau justru sedang mengerjakannya?
Organisasi revolusioner tidak pernah runtuh pertama-tama karena musuh di luar. Ia runtuh ketika kehilangan orientasi ideologis di dalam. Ketika sentralisme demokrasi berhenti menjadi mekanisme dialektika antara kritik dan disiplin organisasi, lalu berubah menjadi pembenaran atas dominasi segelintir orang. Ketika strategi dan taktik tidak lagi disusun berdasarkan analisis kontradiksi objektif masyarakat, melainkan berdasarkan kepentingan jangka pendek. Ketika kepeloporan berubah menjadi perlombaan mendapatkan panggung. Ketika basis massa hanya diingat saat mobilisasi, tetapi dilupakan dalam proses pendidikan politik sehari-hari.
Tidak ada organisasi yang dapat menyebut dirinya revolusioner apabila lebih sibuk mengelola konflik internal daripada mengorganisasi rakyat. Tidak ada makna berbicara tentang sosialisme, demokrasi rakyat atau pembebasan nasional jika hubungan organisasi dengan rakyat berhenti pada slogan dan dokumentasi media sosial.
Hari ini, kapitalisme tidak lagi sekadar menguasai pabrik dan tanah. Ia menguasai kesadaran. Ia mengajarkan bahwa jabatan adalah keberhasilan, bahwa kedekatan dengan kekuasaan adalah prestise, dan bahwa kompromi adalah bentuk kedewasaan politik. Di bawah logika semacam ini, organisasi perlahan kehilangan watak perlawanannya. Yang tersisa hanyalah simbol, atribut dan nostalgia. Padahal tugas pelopor bukan menyesuaikan diri dengan zaman, melainkan mengubah arah zaman.

Maka Hari Lahir LMND bukanlah perayaan kemenangan. Ia seharusnya menjadi momentum untuk bertanya dengan keras: apakah kita masih mempunyai keberanian menjadi oposisi ketika rakyat membutuhkan oposisi? Apakah kita masih memiliki disiplin ideologi untuk mengatakan tidak kepada kekuasaan yang menyimpang, siapa pun yang menjalankannya, bahkan pada mereka yang kita sebut kamerad? Apakah kita masih membangun basis massa sebagai subjek perjuangan, atau justru sedang membangun karier politik atas nama organisasi?
Sejarah hanya mengenal dua jenis gerakan: mereka yang tetap setia kepada rakyat dan mereka yang akhirnya menjadi catatan kaki bagi kekuasaan.
LMND tidak membutuhkan kader yang pandai menghafal dokumen organisasi, tetapi kehilangan keberanian menghidupkannya. Yang dibutuhkan adalah kader yang memahami bahwa kepeloporan berarti hadir paling depan ketika rakyat membutuhkan keberanian; bahwa sentralisme demokrasi berarti kritik yang jujur sekaligus disiplin kolektif; bahwa strategi dan taktik berarti kemampuan membaca perubahan tanpa menggadaikan prinsip; dan bahwa basis massa bukan angka statistik, melainkan denyut kehidupan organisasi itu sendiri.
Dirgahayu Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi ke-27 Tahun. Semoga LMND tidak sekadar bertambah usia, tetapi bertambah keberanian untuk mengoreksi dirinya sendiri. Sebab sejarah telah berkali-kali membuktikan: musuh paling berbahaya bagi gerakan bukan hanya represi negara, melainkan kenyamanan di dalam kekuasaan, lupa pada basis massa dan hilangnya watak kepeloporan.
Jangan pernah takut menjadi kecil karena berpihak kepada rakyat. Takutlah ketika organisasi menjadi besar, tetapi tidak lagi berarti apa-apa bagi rakyat. Sebab organisasi revolusioner tidak mati ketika dibubarkan; ia mati ketika berhenti percaya bahwa rakyat adalah alasan utama mengapa ia dilahirkan. Catatan hari lahir LMND.
Penulis: Johanes Gerung







