Beranda / Uncategorized / LANA: Lemah Tak Berdaya Namun Berbahaya

LANA: Lemah Tak Berdaya Namun Berbahaya

Suatu waktu di tengah hutan. Tengah malam. Dua orang pemburu menyusuri hutan memangsa satwa liar. Bukan untuk kesenangan tapi memang orang Minahasa telah lama memiliki tradisi berburu sebagai sumber hidupnya. Mereka memangsa banyak hewan liar, terutama hama perusak tanaman, seperti babi hutan (wawi/kolowatang[1]), monyet (yaki/wolai), tikus (kawok), kelelawar (peret), bahkan predator hama seperti ular (moromok). Tentunya dua orang ini sementara berburu binatang malam. Kadang mereka melintasi sungai-sungai untuk berburu katak, ular, atau hewan air lainnya. Ketika menuruni wilayah terjal, salah satu pemburu itu mengeluh tangannya sakit karena terus memegang gagang lampu petromax. Dia meminta temannya untuk memetik beberapa lembar daun dari sebuah tumbuhan di dekat temannya berdiri. Tanpa berpikir curiga temannya langsung memetik daun-daun itu. Auuuuwawwaw!!! Selang beberapa saat temannya itu berteriak kesakitan melolong hampir seperti anjing. Dia merasakan tangannya seperti terbakar disertai rasa gatal. Orang yang satunya pecah tertawa. Itu prank! Sebenarnya, teman yang menyuruh memetik daun itu sudah tahu kalau daun itu bisa menyebabkan iritasi kulit yang hebat. Itulah salah satu cerita lucu tentang sebuah tumbuhan yang jarang dikenal orang. Hanya mereka yang terbiasa menjelajahi hutan yang tahu membedakan tumbuhan mana yang bisa dikonsumsi dan tumbuhan mana beracun atau yang berbahaya.

Lana. Itulah nama tumbuhan itu. Begitu orang yang tinggal di desa Tondei[2] menyebutnya. Ini adalah jenis flora endemik di wilayah Minahasa yang banyak tumbuh di hutan. Orang-orang desa mengatakan kalau tumbuhan ini hidup pada kondisi tanah terjal maka sengatannya menimbulkan iritasi yang luar biasa pada kulit. Mereka menyebutnya lana ing kepal. Daun tumbuhan ini memiliki duri-duri halus sehingga tampak kasatmata lemah dan tidak berbahaya. Itulah mengapa dalam penggunaan kata lana taksa dalam percakapan sehari-hari bagi orang Tondei. Kata lana bisa memiliki arti yang merujuk pada tumbuhan itu dan juga bisa berarti bohong atau penipu. Pengertian kedua itu didasarkan pada tampak fisik tumbuhan itu yang kelihatan lemah tak berdaya tapi sebenarnya berbahaya. Kata ‘lana’ adalah bagian dari perkembangan sosiolinguistik orang Tondei, sudah banyak pengguna kata ini tidak tahu lagi sejarahnya dan bahkan tak mengenal tumbuhannya sebagai rujukan primer dari kata itu. Orang-orang muda yang lahir di tahun 2000-an menggunakan kata ini tanpa mengetahui sejarah pengertian awalnya. Oleh karena modernisasi telah merubah ruang hidup dan menghilangkan banyak kebiasaan. Hutan hampir habis karena teknik pertanian modern sekaligus memusnahkan banyak spesies tumbuhan dan kebiasaan berburu tinggal menjadi hobi segelintir orang saja.

Tumbuhan ini dikenal dengan nama latin laportea aestuans, dikategorikan sebagai jenis flora berbahaya dan harus dikontrol karena iritasi yang diakibatkannya pada kulit manusia. Di Hawaai, mereka curiga tumbuhan ini bukan asli endemik di pulau itu dan menduga sangat mungkin tumbuhan ini berasal dari luar yang dibawa melalui pot yang mungkin menjadi objek penerlitian para botanis. Tetapi di Brazil, tumbuhan ini adalah obat tradisional yang dicampur dengan xanthosoma sagittifoliusm untuk mencegah tulang keropos (osteoporosis). Sementara di Minahasa sejauh ini belum ditemukan adanya keterkaitan antara tanaman ini dengan praktek pengobatan tradiosional. Mungkin kurangnya minat para botanis, mahasiswa biologi, di Minahasa untuk melihat kesatuan antara dunia flora dengan budaya masyarakatnya. Perlu ada program penelitian kolaboratif antara orang-orang yang bergelut di bidang antropologi budaya dan biologi (botani). Perpaduan dua bidang ilmu ini saya yakin bisa menghasilkan penelitian yang menunjang perkembangan dunia kesehatan dan farmasi Minahasa. Oleh karena ada banyak tumbuhan di sekitar masyarakat yang memiliki banyak kegunaan tapi tidak diketahui. Atau mungkin dulu pernah ada pengetahuan tentang pengobatan tradisional dengan memanfaatkan tumbuhan sekitar tapi semua praktek tradisional telah dikategorikan sebagai penyembahan berhala oleh agama-agama modern. Misalnya, kata goraka sering, secara sarkas, diidentikkan dengan praktek sihir jahat. Padahal banyak obat tablet yang dibeli di apotik menggunakan bahan ‘goraka’ tapi dengan nama jahe, ginger, atau zingiberaceae. Pengaruh agama-agama modern telah membuat budaya Minahasa menjadi impoten.

Lampu petromax.

[1] Dalam bahasa lokal.

[2] Tondei adalah desa yang terletak di Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Minahasa Selatan Indonesia.

Penulis: Swadi Sual

Repost

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *